Tampilkan postingan dengan label HINDU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HINDU. Tampilkan semua postingan
0

BEBINJAT (anak yang tidak jelas ayahnya )

Senin, 26 Desember 2011
Kata bebinjat berasal dari bahasa bali dan jawa kuno yang berarti perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab dan menyalahi etika sosial dan agama,dengan keterangan diatas bisa kita simpulkan bahwa bebinjat itu adalah perbuatan orang tuanya,, bukan anaknya yang dikatakan bebinjat,dan tidak bisa dipungkiri di lingkungan masyarat kita sering dikucilkan, dijauhi atau dengan istilah yang disebut di diskriminasi, seharusnya yang di diskriminasi perbuatan tersebut (bebinjat) , sebab setiap kelahiran adalah anugrah dari ida sang hyang widhi dan setiap anak yang dilahirkan itu suci. kejadian tersebut berkaitan dengan cuplikan kisah/ cerita ramayana yaitu seorang anak setengah manusia setengah kera,yaitu hanoman yang tidak jelas siapa ayahnya setelah ia mengerti lalu ia bertanya kepada ibunya "ibu dimana ayahku " kemudian ibunya menjawab "ketika engkau melihat sinar/ cahaya kuning kemerahan disanalah kau cari ayahmu" kemudian tentunya hanoman mencarinya, ketika melihat matahari terbit kemudian ia mengejarnya, kemudian dia bertemu dengan bhatara surya, dia langsung bertanya "engkau ayahku" kemudian bhatara surya menjawab "aku bukanlah ayahmu" . kemudian hanoman bertanya lagi kepada ibunya , dan ibunya menjawab dengan jawaban yang sama, ia melihat sinar kuning kemerahan pada saat matahari terbenam tetapi yang ditemui bhatara  surya,, setelah trus menerus ia lakukan itu bhatara surya akhirnya menemui ida sang hyang widhi dan bertanya " oh brahman siapa sebenarnya ayah anak itu beri hamba petunjuk" kemudian ida sang hyang widhi turun ke dunia dan menemui hanoman dalam wujud siwa dan beliau berkata "hai hanoman engkau tidak usah bingung mencari ayahmu , akulah ayahmu dan katakan pada semua yang tidak mengetahui siapa ayahnya akulah ayahnya" jadi hanoman menjadi sangat mulia. semua adalah anak brahman, kesimpulannya adalah jika kita mengucilkan dan menjauhi anak tersebut maka kita telah melecehkan ida sang hnyang widhi, kita tidak berhak mendiskriminasi anak-anak yang bernasib seperti itu , merekapun tidak menginginkan mendapatkan hidup yang seperti itu, negara saja tidak membedakan status anak tersebut dia tetap bisa mendapatkan identitas sebagai warga negara indonesia, dalam ajaran agama hindu pun demikian ,kenapa kita TIDAK,,,,

Demikian postingan saya tentang bebinjat jika ada salah kata mohon dimaklumi, karena saya masih belajar.
terimakasih.
0

TEGAKNYA PANCA YADNYA, CIRI AJEGNYA BALI

Senin, 12 Desember 2011
TEGAKNYA PANCA YADNYA, CIRI AJEGNYA BALI
Tegaknya Panca Yadnya,Ciri Ajegnya Bali

Tesaam kramena sarvaasaam
Niskrtyastham maharsibhih
Panca krpta mahaayadnyah
Pratyaham grhmedhinan.
(Manawa Dharmasastra. III 69)

Maksudnya:
Untuk menebus dosa yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat tersebut, para Maharesi telah menggariskan kepada para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

DALAM Sloka yang dikutip ini, ada pernyataan dalam Adyaya III, 68 yang menyatakan, melakukan penyembelihan di lima tempat seperti tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung, dan alunya, serta tempayan tempat air adalah perbuatan dosa. Untuk menghapus dosa itu, dalam Sloka di atas diwajibkan setiap kepala keluarga Hindu melakukan Panca Yadnya setiap hari.

Melakukan Panca Yadnya itu tidak saja karena alasan untuk menghapus dosa-dosa sebagai akibat melakukan penyembelihan di lima tempat tersebut, juga dasar yang lain yang mewajibkan umat Hindu melakukan yadnya. Misalnya dalam Manawa Dharmasastra VI.35 menyatakan, kalau pikiran ditujukan untuk mencapai kebebasan terakhir sebelum menyelesaikan Tri Rena yaitu utang kepada Tuhan (Ida Hyang Widhi Wasa), para resi dan pitara-nya, maka ia akan jatuh tenggelam ke bawah.

Menyelesaikan tiga utang yang disebut "Tri Rena" itu dengan melakukan Panca Yadnya, Dewa Rena dibayar dengan Bhuta Yadnya dan Dewa Yadnya. Karena bhuta itu adalah bhuwana itu sendiri yang merupakan badan nyata dari Tuhan. Resi Rena dibayar dengan Resi Yadnya. Pitra Rena dibayar dengan Pitra Yadnya dan Manusia Yadnya.

Mengapa Manusia Yadnya? Karena keturunan itu pada hakikatnya leluhur kita yang menjelma kepada anak cucu kita. Secara tattwa, beryadnya kepada keturunan juga berarti melakukan yadnya pada leluhur. Sloka berikutnya menegaskan lebih lanjut setelah ia mempelajari pustaka suci Weda sesuai dengan aturannya dan mendapatkan putra sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, ia dibolehkan menyerahkan pikiran untuk mencapai kebebasan terakhir.

Dalam Bhagawad Gita III.16 menyatakan barang siapa yang tidak ikut memutar cakra yadnya yang sifatnya timbal balik ini adalah jahat dalam alamnya. Puas dengan indria sendiri sesungguhnya hidup yang sia-sia. Ini artinya hidup di dunia ini tidak bisa hanya ditujukan untuk mencapai kelepasan rohani. Sebelum melakukan Cakra Yadnya (mencapai kelepasan) sebelum melakukan yadnya yang timbal balik itu justru akan membawa manusia ke jurang yang rendah.


Melakukan Panca Yadnya bukan berarti hanya melakukan upacara agama yang mewah-mewah dan mahal-bahal. Upacara agama itu baru langkah ritual untuk membangun kekuatan spiritual. Hal itu haruslah dilanjutkan dengan mewujudkan nilai-nilai spiritual yang dikandung dalam ritual sakral dengan langkah yang aktual dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kaitan dengan ajeg Bali, umat Hindu di Bali harus menegakkan ajaran Panca Yadnya itu dalam arti yang sebenarnya. Tidak berhenti di tingkat ritual yang sering dibelokkan layaknya festival. Antara ritual sakral mewujudkan kekuatan spiritual dengan membenahi kehidupan alam lingkungan, kehidupan sosial dan individual.

Pada "bulan Cetra" ini umat Hindu melangsungkan upacara melasti. Tawur Kasanga dan Nyepi dan Tahun Baru Saka 1925. Sampai saat ini kegiatan yang sangat sakral itu umumnya juga berhenti sampai di tingkat ritual saja. Padahal petunjuk dalam Lontar Sunarigama dan Sang Hyang Aji Swamandala sangat jelas petunjuk operasionalnya. Misalnya, Melasti Lontar petunjuknya diajarkan untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Tuhan (ngiring prawatek Dewata).

Untuk melenyapkan penderitaan masyarakat (anganyutaken laraning jagat). Menghilangkan kepapaan individual (anganyutaken papa klesa) dan membangun alam yang lestari (anganyutaken letuhing bhuwana). Setelah melasti dilanjutkan dengan Nyejer, Tawur dan Nyepi. Nyejer itu adalah untuk menegakkan keyakinan kita pada Tuhan lebih kuat.

Tawur dalam konsep Agastia Parwa dinyatakan sebagai berikut: "Bhuta Yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh". Artinya: bhuta yadnya namanya adalah mengembalikan dan melestarikan tumbuh-tumbuhan. Ini artinya sumber alam yang pernah kita ambil harus dikembalikan kelestariannya terutama tumbuh-tumbuhan sumber makanan ternak dan manusia dan juga sebagai penyubur tanah.

Sementara Nyepi tidak lain adalah untuk menyepikan gejolak indria. Kalau indria itu yang berkuasa dalam diri ia akan menjadi sumber penderitaan diri dan orang lain. Upacara Panca Yadnya itu diingatkan dalam wujud hari raya agar kita senantiasa sadar untuk melakukan Panca Yadnya. Wujud ini bisa dilakukan vertikal dan horizontal secara benar baik dalam wujud sekala maupun niskala.

Bali akan ajeg kalau Panca Yadnya itu dilakukan dengan benar sesuai dengan konsepnya dalam Sastra Drstha. Kalau hanya berpegang pada Kuta, Desa dan Loka Drstha tanpa berpegang pada Sastra Drstha, justru Bali ini makin bergeser dari Pulau Dewata secara bertahap menjadi pulau Asura. Perwujudan Panca Yadnya ini harusnya mampu membangun kesetaraan dan kebersamaan yang sinergis. Menjaga kelestarian lingkungan rohani, sosial dari alam. Itulah ciri ajegnya Bali.
0

PURA SILAYUKTI

PURA SILAYUKTI, PASRAMAN MPU KUTURAN

Pura Silayukti merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan di Bali. Pura ini terletak di sebuah bukit bagian timur Desa Padangbai. Pura ini dipercaya sebagai parahyangan Ida Batara Mpu Kuturan, seorang tokoh yang sangat berjasa dalam menata kehidupan sosial religius masyarakat Bali sekitar abad ke-11 Masehi.
Apakah fungsi Pura Silayukti dalam konteks spiritual dan sosial di Bali?
===============================================
Pujawali di pura ini, kata pengayah yang juga prajuru Desa Pakraman Padangbai I Kadek Rena, Selasa (25/4) kemarin di Padangbai, yakni jatuh tiap Buda Kliwon Pahang (enam bulan sekali). Pura lain yang terkait pura ini yakni Pura Telaga Mas, diduga semula pasraman Mpu Kuturan. Selain itu di sebuah goa di timur, di tebing pantai yang curam ada Pura Payogan. Diduga di tempat ini Mpu Kuturan melakukan yoga semadi pada masanya.
Saat ini, pura ini terdiri atas bangunan sederhana berupa beberapa arca di dalam tebing karang yang menyerupai goa dangkal.
Di selatan Pura Silayukti terletak Pura Tanjungsari. Pura ini dipercaya sebagai parahyangan Mpu Baradah, adik Mpu Kuturan.
Mpu Baradah, kata Rena dan Jro Mangku Wayan Marsa -- pemangku di Pura Melanting dan Pura Mumbul, Padangbai ini -- sempat ke Bali. Tujuannya guna memohon kepada kakaknya, Mpu Kuturan, agar salah seorang putra Raja Airlangga di Jawa Timur bisa diangkat menjadi raja di Bali. Namun, Mpu Kuturan tak sependapat.
Sebelum bertolak pulang ke Jawa, Mpu Baradah sempat beberapa waktu tinggal di Bali dan mendirikan parahyangan yang diberi nama Pura Tanjungsari. Pujawali di pura itu jatuh pada Buda Kliwon Matal. Saat pujawali, baik di Pura Silayukti maupun Tanjungsari, persembahyangan juga dilakukan pamedek ke Pura Telaga Mas atau pun ke Pura Payogan.
Mpu Kuturan diperkirakan tiba di Bali pada tahun 1001 Masehi. Tujuannya ke Bali dalam rangka menata kehidupan sosial religius masyarakat Bali. Masalahnya, saat itu kehidupan masyarakat Bali tengah mengalami keguncangan. Banyak terdapat sekte-sekte keagamaan di dalam masyarakat, dan antarsekte itu ternyata tidak rukun.
Di antara sekte-sekte itu, ada enam yang besar dan cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Bali. Raja Bali minta kepada Mpu Kuturan agar menata dan menyatukan masyarakat Bali. Mpu Kuturan yang diangkat sebagai senapati kerajaan pun melakukan pendekatan kepada masyarakat termasuk kepada para pemimpin sekte-sekte besar itu.
Disepakatilah dilakukan paruman di Pejeng di Pura Samuan Tiga. Saat itu, senapati Mpu Kuturan juga sudah dipercaya sebagai Pekira-kira Ijro Makabehan (penasihat semua golongan, kelompok atau sekte).
Berkat pendekatan, pemikiran dan usaha yang dilakukan Mpu Kuturan, sekte-sekte dalam masyarakat Bali itu berhasil lebur dan menyatu (manunggal).
Dalam pesamuan (pertemuan) yang diikuti perwakilan sekte-sekte dan kelompok masyarakat Bali yang saat itu dipimpin Mpu Kuturan itu, kata Rena, dicetuskan konsep sosial religius Tri Murti Tatwa yakni Brahma, Wisnu dan Siwa. Untuk memuja sinar suci atau manifestasi Tuhan itu, di tiap desa pakraman didirikan Pura Kahyangan Tiga.
Di Pura Puseh sebagai tempat pemujaan sinar suci Tuhan dengan manifestasi Wisnu, di Pura Bale Agung/Pura Desa tempat pemujaan Brahma dan di Pura Dalem sebagai tempat memuja sinar suci Tuhan dengan manifestasi Siwa dan saktinya.
Selain itu, di tiap rumah tangga penduduk mesti didirikan sanggah kemulan (rong tiga), juga sebagai tempat pemujaan Tri Murti.
Konsep itu, terkait juga dengan Tri Hita Karana di mana masyarakat Hindu mesti menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan (parahyangan), menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama warga (pawongan) dan menjaga hubungan yang seimbang dengan alam lingkungan (palemahan).
Rena dan Jro Mangku Marsa menambahkan, setelah menginjak usia senja diperkirakan Mpu Kuturan meninggalkan jabatan politik (pensiun) menuju tahapan wanaprastha atau bhiksuka. Mpu Kuturan lantas menetap dan mendirikan parahyangan di timur Desa Padang. Dari sini, dalam yoga semadi dan perenungan-perenungan demi membangun dan lebih memantapkan penataan sosial religius masyarakat Bali terus diajarkan kepada masyarakat tentang dasar-dasar ajaran kebenaran (silayukti). Ajaran-ajaran beliau diduga disampaikan kepada sisya atau warga yang tangkil.
Rena mengatakan dalam sebuah prasasti Padang Subadra berangka tahun 1324 Masehi, diketahui semula wilayah Desa Padang berupa anpadan. Di mana lahan di teluk kecil di tepi pantai dan dikelilingi perbukitan tandus berbatu, dicangkul untuk diolah menjadi ladang tempat bercocok tanam. Desa itu berkembang menjadi Desa Padang.
Pada masa kedatangan penjajah Barat seperti Belanda, desa di tepi pantai dan teluk itu diberi nama Padang Bay (Teluk Padang). Pada perkembangan bahasa dan penulisan, Padang Bay berubah menjadi Padangbai, sehingga desa yang terus berkembang dengan pembangunan pelabuhan penyeberangan Padangbai-Lembar itu kini lebih dikenal dengan Desa Pakraman Padangbai.
Rena dan Jro Mangku Marsa mengatakan, nama Pura Silayukti diduga berasal dari kata dasar ''sila'' diartikan dasar dan ''yukti'' diartikan benar atau kebenaran. Umat yang mamedek di Pura Silayukti itu diharapkan memegang teguh dan menjalankan ajaran kebenaran (agama) yakni Tri Murti Tatwa dan Tri Hita Karana.
Sampai kini krama Desa Pakraman Padangbai dikenal sangat taat dalam menjalankan awig desa. Mereka rajin, trepti (tertib) tiap kali ada ayahan desa. Tiap ada aci atau pujawali di pura lingkungan desa setempat warga setempat yang merantau ke luar desa bahkan ke luar daerah selalu menyempatkan diri pulang kampung untuk bersembahyang.
Sementara persembahyangan umat tak cuma dilakukan pada saat pujawali di Pura Silayukti. Selasa (25/4) kemarin, keluarga besar Pasek Tangkas dari Serai, Desa Pakraman Kembang Merta, Susut, Bangli nuur tirtha ke Pura Silayukti. Hal itu, kata salah seorang pamedek, terkait ngenteg linggih di Pura Panti setempat.
* gde budana
sumber: BaliPost
Yasya sarve samarambhah
kama samkalpavarjitah.
Jnanagni dagdhakarmanam
tam ahuh panditam budhah.
(Bhagavadgita.IV.19).

Maksudnya:
Ia yang segala perbuatannya tidak terikat oleh angan-angan akan hasilnya (Niskama Karma),
kepercayaannya dinyalakan oleh api ilmu pengetahuan (Jnyana Agni).
Kepada ia diberikan gelar pandita oleh orang-orang bijaksana.
Mpu Kuturan tokoh spiritual Hindu di abad ke-11 Masehi adalah salah seorang tokoh yang berbuat dengan landasan niskama karma. Artinya, berbuat tanpa pamerih akan hasilnya. Hal ini dilakukan karena Mpu Kuturan sudah sangat yakin akan ajaran Hukum Karma. Setiap perbuatan baik sudah dapat dipastikan akan membuahkan hasil yang baik. Karena itu, Mpu Kuturan hanya berkonsentrasi pada berbuat baik dan benar untuk kepentingan umat manusia dalam artian yang seluas-luasnya.
Berbuat baik dan benar itu dilakukan karena keyakinan Mpu Kuturan sudah demikian disinari oleh api ilmu pengetahuan yang telah beliau capai. Mpu Kuturan tidak kawin karena beliau menempuh hidup Sukla Brahmacari. Jadinya semua umat manusia itu dianggap sebagai saudaranya. Inilah sesungguhnya perilaku seorang yang tepat disebut Pandita.
Pura Silayukti adalah Pura Pasraman Mpu Kuturan. Mpu Kuturan-lah salah satu tokoh spiritual Hindu di masa lampau yang sangat tepat diberikan gelar Pandita ahli yang juga disebut Brahmanasista dalam pustaka Manawa Dharmasastra. Mpu Kuturan yang nama prinadi beliau Mpu Rajakerta. Beliaulah yang pernah menjabat Senapati Kuturan di Bali pada abad ke-11 Masehi.
Mpu Rajakerta pada awalnya sebagai kesatria karena menjabat Senapati Kuturan. Setelah selesai menjabat Senapati Kuturan barulah beliau sebagai Bhagawanta Kerajaan Bali dengan gelar sebagai Mpu. Selanjutnya lebih populer dengan sebutan atau abhiseka nama Mpu Kuturan dengan asrama di Pura Silayukti.
Di Pasraman Pura Silayukti ada empat kompleks tempat pemujaan. Di bagian utara adalah pura sebagai tempat pemujaan Mpu Kuturan. Beliau dipuja di Meru Tumpang Tiga menghadap ke selatan. Meru Tumpang Tiga inilah sebagai pelinggih utama di kompleks Pura Pasraman Mpu Kuturan. Di barat agak ke utara dari Pura Pasraman Mpu Kuturan ini terdapat Pura Taman Beji sebagai tempat memohon tirtha sebagai sarana utama pada saat upacara di Pura Pasraman Silayukti.
Di kompleks bagian selatan dari Pura Pasraman Mpu Kuturan terdapat kompleks pura sebagai tempat pemujaan Mpu Bharadah. Di pura ini Mpu Bharadah dipuja di Meru Tumpang Tiga juga, cuma menghadapi ke barat. Sedangkan tempat meditasi Mpu Kuturan sebagai kompleks keempat terletak di bagian timur bukit Silayukti agak turun ke bawah menghadap ke timur di mana akan kelihatan laut yang membiru.
Kalau saat bulan purnama dengan berpadu pada pemandangan laut kita melakukan meditasi di tempat ini sungguh sangat menggetarkan spiritual kita. Karena keadaan alam ciptaan Tuhan itu demikian mempesona bagi mereka yang memiliki minat spiritual.
Mpu Kuturan adalah salah seorang dari lima orang suci yang berjasa menata kehidupan keagamaan Hindu di Bali. Lima orang suci yang bersaudara itu disebut Panca Pandita atau Panca Tirtha. Beliau itu adalah Mpu Gnijaya, Mpu Sumeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah. Yang paling banyak berjasa menata kehidupan sosial religius Hindu di Bali adalah Mpu Kuturan. Hal ini dinyatakan dalam berbagai pustaka kuna yang ditulis dalam daun lontar.
Dalam Lontar Usana Dewa dinyatakan Mpu Kuturan-lah yang mengajarkan cara-cara mendirikan tempat pemujaan atau kahyangan seperti Kahyangan Jagat di Bali.
Dalam Lontar Kusuma Dewa juga dinyatakan Mpu Kuturan yang mengajarkan tentang pendirian Pura Sad Kahyangan di Bali dengan landasan konsepsi Sad Winayaka.
Dalam lontar yang berjudul ''Mpu Kuturan'' juga dinyatakan Mpu Kuturan yang mengajarkan tentang pendirian Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali. Penataan Pura Besakih lebih lanjut juga dilakukan oleh Mpu Kuturan. Karena jasa beliau itu Mpu Kuturan distanakan di Meru Tumpang Sembilan di Pura Peninjoan. Pura Peninjoan ini termasuk kompleks Pura Besakih.
Menurut Lontar Babad Bendesa Mas dan Lontar Kusuma Dewa, antara Pura Kentel Gumi, Pura Dasar di Gelgel dan Pura Goa Lawah yang mempunyai hubungan historis juga sama-sama didirikan
0

PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDONESIA

Senin, 31 Oktober 2011
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi" [1]), dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini.[2][3] Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa.[4]
Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis - Sidrap).

Daftar isi

 [sembunyikan

Etimologi

Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). [5] Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.[rujukan?]

Keyakinan dalam Hindu

Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:
  1. Widhi Tattwa - percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
  2. Atma Tattwa - percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
  3. Karmaphala Tattwa - percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
  4. Punarbhava Tattwa - percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
  5. Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia

Widhi Tattwa


Omkara. Aksara suci bagi umat Hindu yang melambangkan "Brahman" atau "Tuhan Sang Pencipta".
Widhi Tattwa merupakan konsep kepercayaan terdapat Tuhan yang Maha Esa dalam pandangan Hinduisme. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan dalam kitab Weda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut Brahman. Filsafat tersebut tidak mengakui bahwa dewa-dewi merupakan Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat Tuhan[6].

Atma Tattwa

Atma tattwa merupakan kepercayaan bahwa terdapat jiwa dalam setiap makhluk hidup. Dalam ajaran Hinduisme, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan yang berasal dari Tuhan dan disebut Atman. Jivatma bersifat abadi, namun karena terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut Awidya. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatma mengalami proses reinkarnasi berulang-ulang. Namun proses reinkarnasi tersebut dapat diakhiri apabila Jivatma mencapai moksa[7].

Karmaphala

Agama Hindu mengenal hukum sebab-akibat yang disebut Karmaphala (karma = perbuatan; phala = buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil, baik atau buruk. Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah reinkarnasi)[8].

Punarbhawa

Punarbhawa merupakan keyakinan bahwa manusia mengalami reinkarnasi. Dalam ajaran Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati. Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksa).

Moksa


Varanasi di Sungai Gangga, sungai suci Hindu. Varanasi menarik ribuan umat Hindu setiap tahun.
Dalam keyakinan umat Hindu, Moksa merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksa, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka-duka di dunia. Oleh karena itu, Moksa menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.

Konsep ketuhanan


Salah satu bentuk penerapan monoteisme Hindu di Indonesia adalah konsep Padmasana, sebuah tempat sembahyang Hindu untuk memuja Brahman atau "Tuhan Sang Penguasa".

Seorang perempuan Hindu Bali sedang menempatkan sesaji di tempat suci keluarganya.

Kuil Hindu di caldeira Bromo, pegunungan Tengger, Jawa Timur
Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia.[9] Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak dipakai adalah monoteisme (terutama dalam Weda, Agama Hindu Dharma dan Adwaita Wedanta), sedangkan konsep lainnya (ateisme, panteisme, henoteisme, monisme, politeisme) kurang diketahui. Sebenarnya konsep ketuhanan yang jamak tidak diakui oleh umat Hindu pada umumnya karena berdasarkan pengamatan para sarjana yang meneliti agama Hindu tidak secara menyeluruh.

Monoteisme

Dalam agama Hindu pada umumnya, konsep yang dipakai adalah monoteisme. Konsep tersebut dikenal sebagai filsafat Adwaita Wedanta yang berarti "tak ada duanya". Selayaknya konsep ketuhanan dalam agama monoteistik lainnya, Adwaita Wedanta menganggap bahwa Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta, dan dalam agama Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahman.
Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal namun juga tidak berakhir. Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta. Brahman berada di mana-mana dan mengisi seluruh alam semesta. Brahman merupakan asal mula dari segala sesuatu yang ada di dunia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta tunduk kepada Brahman tanpa kecuali. Dalam konsep tersebut, posisi para dewa disetarakan dengan malaikat dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri, melainkan dipuji atas jasa-jasanya sebagai perantara Tuhan kepada umatnya.
Filsafat Adwaita Wedanta menganggap tidak ada yang setara dengan Brahman, Sang pencipta alam semesta. Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman hanya ada satu, tidak ada duanya, namun orang-orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama sesuai dengan sifatnya yang maha kuasa. Nama-nama kebesaran Tuhan kemudian diwujudkan ke dalam beragam bentuk Dewa-Dewi, seperti misalnya: Wisnu, Brahma, Siwa, Laksmi, Parwati, Saraswati, dan lain-lain. Dalam Agama Hindu Dharma (khususnya di Bali), konsep Ida Sang Hyang Widhi Wasa merupakan suatu bentuk monoteisme asli orang Bali.

Panteisme

Dalam salah satu Kitab Hindu yakni Upanishad, konsep yang ditekankan adalah panteisme. Konsep tersebut menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu maupun tempat tinggal tertentu, melainkan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan terdapat dalam setiap benda apapun[10], ibarat garam pada air laut. Dalam agama Hindu, konsep panteisme disebut dengan istilah Wyapi Wyapaka. Kitab Upanishad dari Agama Hindu mengatakan bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu, beliau tidak berada di surga ataupun di dunia tertinggi namun berada pada setiap ciptaannya.

Ateisme

Agama Hindu diduga memiliki konsep ateisme (terdapat dalam ajaran Samkhya) yang dianggap positif oleh para teolog/sarjana dari Barat. Samkhya merupakan ajaran filsafat tertua dalam agama Hindu yang diduga menngandung sifat ateisme. Filsafat Samkhya dianggap tidak pernah membicarakan Tuhan dan terciptanya dunia beserta isinya bukan karena Tuhan, melainkan karena pertemuan Purusha dan Prakirti, asal mula segala sesuatu yang tidak berasal dan segala penyebab namun tidak memiliki penyebab[11]. Oleh karena itu menurut filsafat Samkhya, Tuhan tidak pernah campur tangan. Ajaran filsafat ateisme dalam Hindu tersebut tidak ditemui dalam pelaksanaan Agama Hindu Dharma di Indonesia, namun ajaran filsafat tersebut (Samkhya) merupakan ajaran filsafat tertua di India. Ajaran ateisme dianggap sebagai salah satu sekte oleh umat Hindu Dharma dan tidak pernah diajarkan di Indonesia.

Konsep lainnya

Di samping mengenal konsep monoteisme, panteisme, dan ateisme yang terkenal, para sarjana mengungkapkan bahwa terdapat konsep henoteisme, politeisme, dan monisme dalam ajaran agama Hindu yang luas. Ditinjau dari berbagai istilah itu, agama Hindu paling banyak menjadi objek penelitian yang hasilnya tidak menggambarkan kesatuan pendapat para Indolog sebagai akibat berbedanya sumber informasi. Agama Hindu pada umumnya hanya mengakui sebuah konsep saja, yakni monoteisme. Menurut pakar agama Hindu, konsep ketuhanan yang banyak terdapat dalam agama Hindu hanyalah akibat dari sebuah pengamatan yang sama dari para sarjana dan tidak melihat tubuh agama Hindu secara menyeluruh[12]. Seperti misalnya, agama Hindu dianggap memiliki konsep politeisme namun konsep politeisme sangat tidak dianjurkan dalam Agama Hindu Dharma dan bertentangan dengan ajaran dalam Weda.
Meskipun banyak pandangan dan konsep Ketuhanan yang diamati dalam Hindu, dan dengan cara pelaksanaan yang berbeda-beda sebagaimana yang diajarkan dalam Catur Yoga, yaitu empat jalan untuk mencapai Tuhan, maka semuanya diperbolehkan. Mereka berpegang teguh kepada sloka yang mengatakan:
Jalan mana pun yang ditempuh manusia kepada-Ku, semuanya Aku terima dan Aku beri anugerah setimpal sesuai dengan penyerahan diri mereka. Semua orang mencariku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)[13]